my 27th Birthday

“Let us never know what old age is. Let us know the happiness time brings, not count the years” – Ausonius

“You take away all the other luxuries in life, and if you can make someone smile and laugh, you have given the most special gift: happiness.” – Brad Garrett

Pada tanggal 29 maret lalu saya berulang tahun. Memang dihabiskan di rumah saja dengan suami. Tidak ada makan-makan cantik, tidak ada jalan-jalan. Mengingat kemarinnya baru pulang dari Surabaya. Saya pun diminta banyak istirahat dulu di rumah. Memang tahun ini saya lagi gak banyak mau. Tahun ini saya lebih banyak bersyukur sih lebih tepatnya.

Saya hanya berpikir terus menerus, saya sudah berusia segini apa ya yang sudah saya berikan? Apa yang sudah saya punya? Ngapain aja sih saya selama ini? Kok saya menghabiskan umur tanpa berguna untuk orang lain.

Saya memang sudah menjadi seorang istri dan seorang dokter. Tapi apa iya hidup saya cukup sampai disitu saja? Apa iya saya bisa memberikan apa yang disekitar saya butuhkan? Mungkin sebagian orang masih juga berpikir menyerah dengan keadaannya atau memang sedang berada di comfort zone mereka.

Semoga sisa hidup saya bisa saya gunakan untuk kebaikan. Semoga sisa hidup saya bisa berguna untuk suami, anak, orang tua, keluarga, dan teman-teman saya. Saat ini saya sudah sangat bersyukur punya suami yang sangat menyayangi dan menerima saya apa adanya. Saya bersyukur punya orang tua yang selalu memberi saya tanpa pamrih. Saya bersyukur punya mertua yang baik banget dan mendukung semua kegiatan saya. Saya punya keluarga yang semua dekat dengan saya. Apa lagi yang harus saya tuntut untuk kebahagiaan saya. Selain sudah saatnya saya yang memberi.

Sempat saya berpikir kok saya mengulur waktu terlalu banyak hanya untuk menikmati yang seharusnya belum saya nikmati. Apakah bekerja dengan gaji yang hanya akan naik setiap tahun itu merupakan goal terbesar saya? Saya rasa tidak. Saya punya mimpi yang tidak bisa saya raih hanya dengan hidup biasa seperti ini.

Suami saya selalu bilang, tidak ada kata menyesal. Yang harus kita lakukan adalah merencanakan yang selanjutnya harus saya lakukan untuk memperbaikinya. Karena menyesali itu tidak akan berguna dan tidak akan berujung.

Mengingat kegagalan yang sudah terjadi di dalam hidup saya. Apalagi kemarin kami gagal dalam percobaan bayi tabung pertama kami. Bayangkan bayi tabung adalah cara terakhir dari setiap pasangan suami istri untuk punya anak. Dannnn itu…. Gagal. Tapi kami gak berlarut dalam kesedihan. Mungkin ada hal lain yang harus kita capai dulu sebelum akhirnya saya bisa positif hamil. Semua pasti ada alasan dibalik itu.

At the end of this story, saya berharap banyak kebahagiaan dan keberuntungan lagi yang akan saya dapatkan di sisa umur ini. Yang sudah berlalu biarkanlah berlalu. Hidup yang menurut saya sangat penuh dengan ujian. Semoga kedepannya hidup saya di dunia tidak menjadi beban untuk orang lain.

At least jika tidak semua bisa saya dapatkan, maka semoga saat saya tua nanti saya bisa berdiri dengan kaki sendiri. Saya bisa sukses agar ketika saya tua, saya tidak menjadi beban bagi orang lain. Semoga saya selalu bisa memberi bukan hanya menerima belas kasihan dari orang lain. Semoga sampai nafas terakhir saya selalu bisa memberi buat orang lain. Aminnnn.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *