Secangkir Kopi Sejuta Saudara

“Dengan keyakinan dan keuletan orang tua saya dulu maka warung kopi ini tetap ada sampai sekarang. Orang tua saya – Kong Djie- adalah pendiri warung kopi yang mendapat kebanggaan. Karena kopi yang enak adalah yang prosesnya hanya untuk membuat kopi terbaik. Bukan hanya menghidangkan kopi.”

Begitulah kira-kira cuplikan dari Pak Ismed atau yang akrab dipanggil Koko Atat sebagai pemilik dari Warung Kopi Kong Djie yang sudah ada sejak tahun 1950 di Tanjung Pandan, Belitung. Ya Belitung selain pantainya yang menawan, dikenal sebagai negeri 1001 warung kopi. Kenapa? Karena kebiasaan penduduk local yang hobinya “ngopi” ini sejak jaman Belanda dahulu. Bahkan bisa setiap hari mereka mampir ke warung kopi untuk sekedar ngongkrong, ngobrol, bisnis, ataupun sarapan.

Di pagi hari selain ada kopi, ada pula makanan-makanan kecil atau kue-kue yang bisa dimakan untuk sarapan, atau jika di sore hari sepulang kerja biasanya penduduk local minum kopi dulu sebelum pulang.

Di pinggir jalan kita dapat melihat warung kopi yang memanggil kita untuk mencoba kopi di warung itu. Seketika kita masuk bangunannya memang sudah tua. Khas dengan warung kopi. Tapi yang bikin kita takjub adalah dapur untuk membuat dan meracik kopi bisa dilihat dari luar. Mengeluarkan asap dari air yang mendidih dipanaskan oleh arang yang terus menyala dari pukul 6 pagi hingga pukul 12 malam setiap harinya.

Ketika kami datang, ada menu diatas meja dan kami pesan yang paling banyak di pesan orang, yaitu kopi susu, kopi O, telur ayam kampung. Saat kami mulai mengeluarkan kamera, sang pemilik mendatangi kami dan mengajak kami ngobrol. Kamipun dikenalkan ekstrak kopi, teh susu, dan sejarah tentang warung tersebut sambal beberapa kali melayani pelanggan lain.

Harga yang ditawarkan tidak mahal seperti kopi di coffee shop dan tidak semurah kopi di warung pinggir jalan. Tapi warung ini menyediakan yang berbeda dari yang lain, setiap pelanggan yang datang untuk ketiga kalinya, pelanggan sudah dapat menikmati kopi sesuai dengan seleranya, tanpa harus meracik sendiri seperti penambahan gula atau susunya. Dan hebatnya, setiap pelanggan yang pernah datang tidak pernah salah takaran. Hehehe.

Rasa kopinya kental, agak asam, dan tanpa ampas. Kopi yang disediakan dari sini, adalah 80% kopi robusta sumatera : 20% kopi arabika jawa.  Setiap harinya mampu menghabiskan 15 kg kopi loh.  Diawali dengan kebutuhan hidup dengan keuletan maka kedai ini menghasilkan nilai yang besar bukan hanya uang, tapi pelajaran hidup yang berharga.

Yang bisa saya petik dari cerita Koko Atat adalah…

Semua memang dimulai dari nol. Tapi tidak ada usaha yang sia-sia selama kita yakin. Semua yang terjadi memang sudah takdir, tapi semua yang terjadi pasti ada alasannya. Bahkan ketika kita tidak mengerti sebelumnya.

 

 

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *