My Pregnancy Jurney Part II

Sudah lama ya saya gak tulis tentang perjalanan saya untuk hamil. Sudah 2 bulan berjalan gak konsultasi ke dokter manapun, niatnya sih mau coba hamil alami. Persiapkan 1 minggu selama masa subur aja. Tapi tetep di tespack garisnya selalu satu.

Kata suami sih, “Kamu melakukan hal dengan cara yang sama setiap bulannya tapi mengharap hasil yang berbeda. Ya gak mungkin.”

Bener juga ya, setiap bulan selalu kita menunggu di masa subur. Tapi hasilnya tetep nihil. Sambil baca-baca blognya mbak andra alodita, Lulu Elhasbu, Fani Maulida, Nitya Anindita, dll gw dan suami pun berniat lagi untuk mencoba konsultasi dengan dokter dan tempat yang berbeda.

Kami pun membuat semacam resume tentang dimana klinik-klinik di Jakarta yang khusus untuk program hamil dan fasilitas yang lengkap. Akhirnya pilihan pun jatuh ke Morula IVF klinik atau BIC karena di Indonesia udah banyak banget yang berhasil program disana, termasuk Tya Ariestya,  Cynthia Lamusu, dan orang-orang hebat diluar sana.

Pertama saya telepon dulu memastikan dokter yang bisa saya datangi. Saya bertemu dengan dr Indra Anwar, SpOG. Sambil antri menunggu dipanggil, suster menganamnesis saya dengan minta resume hasil pemeriksaan sebelumnya dan seperti biasa, timbang dan tensi.

Ruangan-ruangan dokter untuk konsul di BIC

Masuk ke ruangan dokter saya dan suami hanya dijelaskan mengenai kondisinya. Beliau bilang pemeriksaan yang sudah saya dan suami lakukan itu sudah lebih dari cukup. Dia bilang dengan endometriosis yang saya punya itu sudah grade III dan hanya bisa hamil dengan metode bayi tabung itupun harus yang long protocol. Beliau bilang chancenya mungkin cukup besar mengingat saya masih muda, masih 26 tahun dan masih boleh dipikirkan matang-matang dulu sebelum mulai program.

OH MY GOOOOODDDDD. Gimana perasaan lo pas tau kalau lo ga bisa hamil selain pake metode dan teknologi ini. Sebetulnya sih saya sudah duga itu akan terjadi karena sebelumnya saya pelajari. Tapi saya pikir masih ada keajaiban yang mungkin terjadi sebelum dokter itu meyakinkan saya kalau ini ga ada cara lain. Sepanjang jalan pulang saya berpikir apa yang sudah terjadi, kenapa harus saya yang harus begini mengingat kemungkinannya 1:10. Kenapa gak saya yang termasuk dari 9 orang itu. Kenapa harus suami saya yang kebagian ga enaknya harus nikahin saya? Saya sampe nangis-nangis pas sudah sampai di rumah. Kasihan suami saya. Saya sampe bilang, “Kalau mau nikah sama orang lain yang bisa kasih kamu anak silahkan aja, kamu kan anak tunggal. Orang tua kamu mengharap cucu dari kamu.” Seketika itu dia yang balik marah ke saya. Katanya dia malah tidak pernah kepikiran seperti itu.

Sedih ya kalau dibilang sedih, tapi yang saya pikir cuma ga tega sama suami saya. Dia yang sehat-sehat aja bisa ketimpaan dari saya. Apalagi kalau lihat teman-teman saya hamil dengan sangat mudah, ada juga yang hamil gak sengaja, atau bahkan kalau lihat pembantu saya aja punya 4 orang anak yang ga ada yang pendidikannya sampai kuliah, saya selalu berpikir terus kok bisa ya.

Dr Indra bilang semakin muda semakin tinggi tingkat keberhasilannya. Tapi siapa yang sudah mampu mengeluarkan uang ratusan juta just for make a baby in younger age. Kadang saya dan suami pun berpikir apa ini alasan kita kumpulin uang. Ya untuk proram bayi tabung.

Ya Allah rasanya campur aduk. Saya pikir setelah menikah saya akan santai-santai langsung hamil terus bisa membesarkan anak sambil saya mulai sekolah lagi. Ternyata 2 tahun berlalu dan saya terpaksa harus hamil dengan cara ini dan tidak ada cara lain. Kalau lihat orang ke pukesmas untuk control kehamilan sm bidan (because they don’t have enough money to go to obstetrician or even pay section caesarean’s bill), kenapa saya ga bisa kayak gitu. Hamil sampe melahirkan gratis tis tis.  (sorry for my opinion, I just felling depressed)

Suami saya pun mulai menghitung berapa biaya yang harus dikeluarkan. Mulai dari program hingga anak lahir. Semua biaya untuk control, obat, tindakan, atau bahkan komplikasinya.

Dia hanya bilang, “Soal uang aku yang akan siapkan, kamu mulai siapkan mental dan fisiknya. Aku gak akan tinggalin kamu. Kita sudah menikah, segala kekurangan kamu ya harus aku terima. Kamu pun akan begitu, kamu ga pernah menyalahkan aku atas apapun dan selalu terima aku apa adanya. Kamu pasti punya kelebihan yang orang lain gak akan punya. Kita sekarang sudah mulai siapkan segala biaya dan keperluannya. It will start when you’re ready.”

Kadang saya memang kurang bersyukur, ternyata saya punya suami yang ihklas untuk hidup sama saya. Suami yang pintar menyiapkan segala sesuatu hingga keadaan terburuk pun harus terjadi. Allah memang adil membagi jodohnya, dan saya percaya Allah gak akan kasih cobaan yang saya gak sanggup. Semua sudah diberi sesuai porsinya, sesuai waktunya, sesuai kemampuannya. Bahkan teman saya mau program hamil pun belum kepikiran karena belum ada biaya. Sedangkan saya dibukakan jalan yang begitu mudah untuk kapan pun saya siap memulai program ini. Alhamdulillah for everything. Mungkin ini jalan untuk membuka surga bagi saya dan suami, saya jadi lebih nurut dan suami jadi lebih sayang sama saya.

For anything bad happens, I’m sure not alone. My Husband always besides me.

You may also like

6 Comments

  1. Mbak aku dina adek kelas di Spansa sama Smansa, dulu pernah les bareng di BIEC juga kalo masih inget.. Sebelum nikah dulu aku juga kena deep infiltrate endometriosis sampe harus di laparotomi (laparoskopi sudah ga bisa buat ngebersihin maksimal) 2 kali. Pasca laparotomi yang ke dua, obsgyn yang nanganin aku bilang, ini sudah endometriosis stage 3 dan indung telur sebelah kanan sudah ga berfungsi, tapi alhamdulilah sebelah kiri masih bisa berfungsi 100 %. Beliau bilang 3 bulan pasca operasi harus nikah dan mulai program hamil alami dulu, kalau setahun ga bisa baru coba lewat prosedur medis, dan beliau bilang lagi kesempatan aku punya anak secara alami bisa jadi cuma sekarang, karena aku punya riwayat reccurent endometriosis. Wah, perasaanku campur aduk mbak, gimana caranya nikah tapi persiapannya cuma 3 bulan, bahkan aku lulus koass aja belum, dan dari hati yg paling dalam aku blm siap nikah waktu itu. Tapi demi kesempatan bisa punya anak secara alami dan tekat kuat buat bisa memperbaiki kondisi endometriosis yang kualamin sudah 4 tahunan, aku akhirnya 3 bulan pasca operasi berhasil nikah setelah perjuangan berat karena mendadak dan bikin shock keluarga suami. Dan alhamdulilah sebulan kemudian langsung diberi malaikat kecil yg sekaligus jadi obat endometriosis dari Allah. Semangat terus mbak dea, Allah pasti mendengar doa orang yg sungguh2 sabar, ga berhenti berdoa dan berusaha..

  2. dheaaaaaaa, terharuuuu :”.
    semangat ya dhea dan suami.
    mashaaAllah sekali perjuangannya.
    inshaaAllah akan diberi segera di waktu yg paling baik dan paling tepat!
    joss!

  3. Dhe… aku baru banget mulai baca blog kamu terutama soal pregnancy journey-nya…

    Aku terharu banget part suami kamu bilang “Aku gak akan tinggalin kamu. Kita sudah menikah, segala kekurangan kamu ya harus aku terima. Kamu pun akan begitu, kamu ga pernah menyalahkan aku atas apapun dan selalu terima aku apa adanya”

    Kamu hebat dhe…
    Dan aku salut bgt sama usaha kamu… kesabaran kamu.. bener ternyata Allah ga akan memberikan cobaan yg ga bisa dilewati… krn kamu setangguh itu dhe… kamu se spesial itu….
    Kalo aku, aku pasti ga akan setangguh kamu…. udah drama all the day pasti… :’)
    Apalah aku dibandingin kamu yg udah melewati semua itu…

    Tapi aku belajar 1 hal Dhe dri dramanya aku, bahwa ketika aku terlalu mengharapkan sesuatu, Allah nunjukin sakitnya terlalu berharap yg blm jadi hak aku…
    (Baik dalam relationship dulu ataupun dalam hal berharap punya baby skrg..kamu pasti juga salah satu yg gerah wkt liat aku galau mulu di medsos soal cowok jodoh dll, aku sedrama itu kan? Bayangin kalo aku jadi kamu dhe… aku bisa2 ga punya temen krn pda super gerah sama dramanya aku…)

    Trus beberapa saat lalu aku juga nonton talkshow gitu yg tamunya adalah atiqah hasiholan (bener ga ya namanya?)
    Denger ceritanya dan usahanya setelah sempat gagal (dulu pernah hamil trus keguguran) dia cerita kalo mungkin dulu dia dan suami terlalu excited terlalu mendahului kehendak Allah, makanya sampai keguguran. Disaat udah usaha lagi macem2.. tetep ga dapet2 juga, sampai akhirnya pasrah, ehh malah dikasih :’)

    Jdi ttp semangat ya dhe dan suami…
    Semua akan diberi rezeki pada waktunya…
    Ikhtiar iya, doa iya, tapi jgn ketinggalan pasrah lillahita’alanya… :’)

    Inget dhe… kamu spesial…
    Allah tau kamu hebat makanya kamu yg melewati semua ini dan bisa menginspirasi banyak org…

    Bismillah dhe.. semoga ikhtiar kali ini memang rezekinya yaa… sehat2 selalu… aamiin

    1. Makasih ya Rani, ya begitulah mungkin itu yang dinamakan cobaan yang sesuai dgn kemampuannya. Alhamdulillah suami, mertua, orang tua gw semua ga ada yang memaksa harus punya baby, karena tau itu hanya hadiah. tapi gw dan suami kan ga berhenti berusaha hehehe. Lo juga semoga sehat selalu ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *