Beyond the Box

 “Kamu tahu kenapa Steve Jobs sukses? Karena dia berpikir 10 step didepan dari orang lain. Kamu harus berpikir beyond the box.” – Widhilaga, 30 tahun.

Itu adalah kata-kata yang selalu keluar dari mulut suami saya. Suami saya sekarang sedang menempuh pendidikan S3 di kampus jaket kuning. Semenjak itu dia lebih bijak, lebih berpikir luas, lebih mikir yang orang lain bahkan belum kepikiran. Mungkin itu yah efek tidak langsungnya dari menempuh pendidikan tertinggi.

Saya yang ada disebelahnya sih selalu jadi pendengar sejati.

Beyond the Box adalah kata-kata yang menurut saya menarik. Orang lain selalu ingin mencoba berpikir out of the box. Just out of the box to find another point. Tapi saya diwajibkan berpikir beyond, jauh dari itu until 10 steps ahead.

Saya sempat bête tuh awalnya, kok saya istrinya udah kayak mahasiswanya ya. Apa-apa harus urus sendiri, mikir sendiri, beli sendiri, sampai merencanakan apapun sendiri. Saya tidak pernah diajarkan untuk bergantung sama dia. Even untuk urus pajak mobil, apalagi urusan sepele kayak isi ulang meteran listrik atau bayar tagihan ini itu sudah pasti saya yang urus semuanya.

Lama-lama saya sadar, sambil saya juga melihat disekitar saya. Kenapa yak kok orang itu hidupnya begitu-begitu saja. Asal sudah bisa makan sehari-hari. Apa mereka gak mau punya rumah yang lebih besar atau lebih layak? Apa mereka gak mau liburan ke luar negeri? Apa mereka ga mau ya bayar les untuk anaknya? Even untuk hal-hal kecil seperti membantu sesama. Kadang pertanyaan itu selalu muncul di kepala saya.

Oke, bukan orang lain yang saya pikirkan. Tapi bagaimana keadaan itu tidak terjadi di hidup saya. Apa yang harus saya lakukan untuk membuat ini lebih baik. Apa yang harus saya mulai?

Saya  dan suami berprinsip harus menjadi yang lebih baik dari kemarin, dari hari ini, hanya untuk masa depan kita berdua. Kita tidak bisa hanya berpikir yang sempit. Misalnya hari ini bangun, kerja, pulang, di rumah nonton tv, hanya itu yang dilakukan berulang-ulang.

Hidup itu paling lama berapa tahun sih. Di Indonesia angka harapan hidup sudah 70 tahun menurut situs BPS (Badan Pusat Statistik). Angka ini terus meningkat setiap 5 tahun. Kenapa terus meningkat? Karena penduduk Indonesia sudah mulai berpikir mengenai kesehatan, pendidikan, ekonomi, bahkan sosialnya. Semua berlomba-lomba untuk menjadi lebih baik.

Anggap saja usia kita kira sampai 70 tahunan. Mulai produktif bekerja di usia 26. Terus selama 40 tahun kita mau seperti apa? Begini saja sudah cukup kah? Atau kita mulai berpikir untuk bisa bermanfaat bagi orang lain?

Hmm pertanyaan ini sepertinya hanya berapa persen yang bisa jawab dengan mantap dan lantang apa rencana hidupnya 20-30 tahun mendatang.

Sudah siapkah anda untuk berpikir jauh di luar sudut pandang orang lain? Yuk kita sama-sama melakukan perubahan kecil yang dimulai dari diri kita sendiri. Karena saya jujur saja, rasanya tidak ingin hidup bertahun-tahun hanya mandi, nonton tv, makan, tidur, masak (kadang-kadang) yang begitu saja saya lakukan berulang-ulang selama beberapa puluh tahun. Hehehe. Saya ingin bermanfaat minimal untuk suami saya dan keluarga kecil ini.

Semoga kita semua bisa menjadi lebih baik dan bermanfaat untuk orang lain ya.

Remember to think beyond the box.

-Pict from pinterest-

You may also like

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *